Cerita kami.
Dari kecintaan pada kopi Indonesia yang under-appreciated, hingga menjadi ruang bagi komunitas kreatif Bandung.
Afecto lahir di sebuah garasi rumah kecil di Dago, awal 2019. Rizal Fadhil, mantan programmer yang lelah dengan rutinitas kantor, memutuskan untuk kembali ke hal yang selalu membuatnya bahagia — kopi.
"Awalnya saya cuma mau bikin tempat ngopi yang nggak bikin malu dompet," kata Rizal saat ditemui di kedai yang kini sudah memiliki lebih dari 500 pelanggan tetap. "Tapi makin lama, makin jelas visinya — ini bukan sekadar kedai kopi. Ini tempat di mana orang-orang bisa merasa diterima apa adanya."
Nama "Afecto" sendiri diambil dari akar bahasa Latin *afficere* — terpengaruh, terpikat, tertarik. Filosofinya sederhana: kami ingin setiap orang yang lewat pintu ini merasa terpikat, entah oleh rasa kopinya, suasana ruangnya, atau percakapan yang terjadi.
Setiap biji kopi yang kami gunakan berasal dari petani lokal — Gayo, Toraja, Kintamani — yang kami beli langsung melalui jalur fair trade. Kami roast sendiri di kedai, menguji setiap batch untuk memastikan karakter terbaik dari setiap origin tercapai.
Selain kopi, Afecto juga rutin menyelenggarakan acara budaya: live jazz, open mic puisi, workshop latte art, pameran seni muda Bandung, dan masih banyak lagi. Karena bagi kami, kopi tanpa komunitas itu seperti malam tanpa bintang — ada sih, tapi kurang indah.
Kalau kamu mampir, jangan sungkan. Pesan satu kopi, duduk santai, dan biarkan Afecto bekerja. Siapa tahu kamu nemu sesuatu yang baru hari ini.
- Berdiri
- 6+
- Origin Biji
- 12
- Event/Bulan
- 8+
- Pelanggan Tetap
- 500+